Tentang
Dibuat satu orang, bukan tim besar
Lapaqin bukan produk startup dengan tim engineering dan divisi marketing. Sampai tulisan ini dibuat, yang mengerjakannya satu orang: saya, Achmad Azman.
Kenapa Lapaqin dibuat
UMKM jasa di Indonesia — laundry, katering, jasa servis, salon, fotografi, dan sejenisnya — biasanya menagih pelanggan lewat chat WhatsApp atau nota kertas yang ditulis tangan. Bukan karena mereka tidak mau lebih rapi, tapi karena software akuntansi yang ada kebanyakan dibuat untuk usaha yang jauh lebih besar: fiturnya kebanyakan, harganya juga.
Lapaqin dimulai dari situ. Setiap produknya sengaja sempit: fokus menjawab satu masalah, bukan jadi software serba bisa yang harus dipelajari dulu sebelum bisa dipakai. Produk pertama, Lapaqin Invoice, menjawab satu hal spesifik: invoice yang dikirim sebagai link WhatsApp, bukan PDF yang gampang hilang di percakapan.
Statusnya sekarang
Lapaqin baru saja rilis. Lapaqin Invoice sudah bisa dipakai penuh — gratis untuk mulai, tanpa kartu kredit — tapi belum ada testimoni yang dipajang di halaman ini, dan itu sengaja: saya tidak mau menulis kutipan pengguna sebelum penggunanya benar-benar ada. Kalau nanti ada cerita nyata dari toko yang memakainya, itu yang akan tampil di sini.
Sampai saat itu, cara terbaik menilai Lapaqin adalah mencobanya sendiri — gratis, dan tidak perlu kartu kredit untuk mulai.